See the picture?
Kami berfoto dengan Butet Kartaredjasa. It was not his after-show held in Taman Budaya or elsewhere here. Tapi kami bertemu Beliau di restaurannya yang baru buka di Yogya, namanya Warung Masakan Omah Bu Ageng. I’m not an expertise reviewing experience in restaurants or culinary thingy actually. Tapi boleh dong ya saya iseng review, secara restauran ini juga masih baru ada di Yogya (kabarnya baru buka sekitar Desember kemarin), jadi sekiranya blog ini bisa membantu memberikan informasi yang memadai, terutama bagi pelancong yang hobi kuliner.
So let we start from the location. Jalan Tirtodipuran 13. It takes around 10-15 minutes to drive from Malioboro. Kalau dipikir-pikir, mungkin karena segmentasi pasarnya ditujukan untuk pengunjung yang sedang berlibur ke Yogyakarta, jadi itu dia kenapa lokasinya berada di daerah Yogya Selatan.
The foods! Duh sayangnya saya nggak sempat foto makanan yang saya coba kemarin. Tapi tenaaang, saya masih hafal betul nama, rasa, dan harganya! Hehehe. Saya sempet coba Nasi Campur Paru Ketumbar (Rp 20.000,-). Dikatakan nasi campur karena dalamnya nggak cuma nasi dan paru aja, tapi ada telor yang dipotong dadu, ikan asin, keripik kentang, dan sayur kacang panjang. Nasi campurnya beragam di sini. Selain yang saya sebutkan di atas, ada Nasi Campur Ayam Bakar Suwiran (Rp 16.000), Lele Ndjingkrung (Rp 19.000), Lidah (Rp 22.000,-), Baceman Kambing (Rp 22.000,-), sampai Terik Daing Sapi (Rp 22.000,-). Menurut saya rasanya maknyus, terutama ketumbar yang blended dengan parunya. Tapi buat saya, porsinya terbilang masih terlalu mini untuk makan siang (haha, ihyes, porsi saya ‘kuli’ banget, memang :p) so I decide to try Bubur Duren Mlekoh Jumbo (Rp 14.000,-), daann…. slurp! Pengen lagi :9 rasanya juga lumayan! Lebih pas lagi kalau dinikmati pas hujan. Karena bubur durennya itu disajikan dalam keadaan hangat. Kalau nggak suka versi bubur atau hangatnya, bisa coba Es Kopyor Duren (Rp 15.000,-), it’s recommended. Durennya kerasa banget!
Dilihat dari segi harga makanannya, rata-rata berkisar antara Rp 5.000 sampai Rp 22.000, sedangkan untuk minuman, berkisar dari Rp 2.000 sampai 12.000. Yang menarik di menunya, ada Kopi Clekot, alias Coklat, kalua dengan harga Rp 12.000. Tapi sayangnya saya belum sempet mencicipi, mungkin next time kalau dapat kesempatan ke sana lagi.
Overall, rumah makan ini lumayan worth to try untuk sekali-dua kali di Yogya. Makanannya benar-benar bikin ngerasa feel hommy dan selalu kerasa seperti dibikinkan Ibu di dapur. Di samping itu suasananya terasa semilir dan santai untuk ngobrol dengan keluarga atau kerabat. Makanya saya dan teman betah ngobrol lama di sana.
Tertarik mencoba?
